Mantan pemain PSV Eindhoven ini
dikaruniai talenta bermain bola hebat. Setelah tekun berlatih keras
siang-malam mengasah teknik bermain bola, kesuksesan pun menghampirinya.
Padahal dulunya gang sempit di dekat rumahnya menjadi arena
penggemblengan dirinya.
Untuk menghemat ongkos, ia kerap
pergi ke tempat latihan sepakbola di Eindhoven dari tempat tinggalnya
di Ultrech menggunakan kereta api. Kadang pula ia menumpang pada truk
terbuka. Sekarang, Afellay bisa mengangkat ekonomi keluarga melalui
sepak bola. Kini, bolak-balik dari tempat latihan di Stadion Nou Camp ia
menggunakan mobil mewah.
Meski sudah meroket reputasinya,
mantan kapten PSV Einhoven itu tetap mengijakkan kaki dibumi. Pemain
yang memperkuat Barcelona ini memang memiliki identitas Muslim yang
cukup jelas, baik secara fisik maupun tingkah laku.
Dia memiliki wajah khas jazirah
Arab dan berkepribadian santun. Mantan gelandang serang PSV Eindhoven
ini dianggap sebagai salah satu pemain berbakat dalam persepakbolaan
Belanda.
Agama tetap Nomor satu
Di luar lapangan hijau,
gelandang timnas Belanda Ibrahim Afellay merupakan pesepakbola berbakat
yang taat kepada agamanya. Saat masih bermain di Eredivisie Belanda,
setiap bulan Ramadan tiba, ia tetap berpuasa.
Baginya, agama tetap nomor satu,
bahkan melebihi sepak bola. Dengan berpegang teguh pada agama, ia
berharap bisa mendapatkan hasil terbaik dalam kariernya.
Secara menakjubkan, Afellay
pernah dinobatkan sebagai seorang muslim teladan di Belanda, atau biasa
disebut “Moslim Van Het Jaar”. “Itu memberikan saya sebuah perasaan
positif,” ujar dia.
Tentang berpuasa saat kompetisi,
Afellay bertutur, “Saya berpegang pada keyakinan saya secara taat.
Tidak masalah betapa sulitnya ini, it gives me a good feeling.” ujarnya kepada PSV.netwerk.
“Ibuku adalah Sumber Inspirasiku”
Bagi Afellay segala prestasi
yang diraihnya didedikasikan untuk ibunda yang sangat dicintainya. Tidak
salah, kalau ia merasa bangga bisa berfoto bersama dengan sang ibu yang
sejak kecil mendidiknya untuk menjadi pribadi yang tidak gampang
menyerah. Ia menganggap orang yang telah melahirkannya itu sebagai
sumber inspirasinya di dunia.
![]() |
| Ibunda Afellay, Habiba |
"Aku tahu ibu sangat ingin
menonton permainanku. Tapi aku tahu pula ia tidak ada waktu karena harus
bekerja membanting tulang, dan mengasuh saudaraku yang lain," kata dia.
Semua lantaran kehidupan
gelandang Barcelona ini layaknya roda yang berputar. Ia pernah mengalami
titik nadir kehidupan ketika sang ayah dipanggil Yang Maha Kuasa ketika
usianya masih kecil. Sang ibu akhirnya harus mengurus keempat
saudaranya yang juga masih kecil sekaligus menjadi tulang punggung
keluarga.
“Saya dari keluarga miskin. Saya
anak yatim, ayahku meninggal sejak aku kecil. Untunglah aku punya ibu
luar biasa. Dia yang menghidupi saya dengan bekerja keras dan tetap
mengasuh kami dengan penuh kasih sayang,” terangnya dilansir dari
PSV.netwerk.
Ia selalu mengajak dan
melibatkan ibunya, Habiba jika ingin mengambil keputusan penting.
Termasuk memboyong Habiba dari Maroko itu ke Barcelona.
"Aku bermain sepakbola ini khusus untuk ibuku, demi kebahagiaannya," ujar Afellay mengakhiri.

